Skip to main content
toilet

5 Alasan Untuk Tidak Menyepelekan Diare pada Anak

Diare merupakan salah satu respon yang paling sering terjadi pada anak balita jika terjadi masalah pada sistem pencernaan. Umumnya, orangtua akan menganggap anak terkena diare jika feses/tinja anak terlihat cair. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, seorang anak memang dikatakan diare jika bentuk feses/tinjanya cair, tetapi dengan syarat frekuensi atau seringnya anak buang air besar adalah lebih dari tiga kali dalam sehari. Walaupun diare terdengar seperti penyakit yang sederhana, akan tetapi diare  menyimpan banyak bahaya yang perlu diperhatikan oleh para orangtua. Berikut ini 5 alasan mengapa para orangtua dilarang untuk menyepelekan diare.

1. Kerusakan kulit

Frekuensi buang air besar yang sangat sering pada anak dengan diare menyebabkan daerah sekitar anus bersifat lembab dan basah. Pada kondisi tersebut, kulit bayi dan balita yang masih bersifat sensitif menjadi mudah terluka akibat gesekan dari popok. Akibatnya, kulit bayi menjadi kemerahan dan akhirnya timbul lecet-lecet pada daerah sekitar anus. Lecetnya kulit daerah sekitar anus akan menyebabkan anak merasa tidak nyaman sehingga anak menjadi sering rewel atau menangis. Selain itu, luka yang terjadi pada daerah sekitar anus memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi sarang kuman dan menyebabkan infeksi kulit. Jika kemerahan dan lecet pada kulit sekitar anus terjadi, sebaiknya hindari penggunaan pampers pada anak dan usahakan area sekitar anus tetap kering dengan segera mengganti popok jika anak buang air besar.

2. Dehidrasi berat

dehidrasi anak
dehidrasi berat pada anak via: https://www.flickr.com/photos/pahowho/

Diare yang dibiarkan terus menerus tanpa diimbangi dengan asupan cairan yang cukup akan menyebabkan terjadinya dehidrasi. Dehidrasi merupakan kekurangan cairan pada tubuh akibat cairan yang keluar lebih banyak daripada cairan yang masuk. Jika terjadi dehidrasi maka volume darah akan semakin berkurang, tekanan darah pada anak akan menurun drastis dan terjadi gangguan keseimbangan elektrolit. Kondisi tersebut merupakan hal yang sangat membahayakan bagi tubuh anak karena dapat mengganggu fungsi organ vital lainnya, seperti otak, ginjal, dan jantung. Selain itu, gangguan elektrolit dapat menyebabkan anak tiba-tiba mengalami kejang.

Baca juga  Mencegah Efek Samping Antibiotik pada Anak Menggunakan Prebiotik

Untuk menghindari terjadinya dehidrasi pada bayi yang menderita diare, ibu dianjurkan untuk menyusui anak lebih sering. Sedangkan untuk menghindari dehidrasi pada anak yang lebih besar, ibu dapat memberikan air putih terutama setelah anak buang air besar dan memberikan larutan oralit untuk mengganti elektrolit yang hilang akibat diare.

3. Sumber infeksi

cuci tangan
anak cuci tangan via: https://www.flickr.com/photos/gtzecosan/

Diare dapat disebabkan oleh berbagai infeksi kuman seperti virus, bakteri dan jamur. Akibatnya, feses/tinja juga dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi kuman. Selain itu, feses/tinja dapat menjadi media perpindahan  kuman yang efektif pada anak lainnya atau bahkan  kuman penyebab diare dapat kembali pada anak yang telah terkena diare itu sendiri.

Jika ibu yang merawat anak dengan diare tidak melakukan cuci tangan dengan benar setelah bersentuhan dengan feses/tinja anak, maka kuman penyebab diare akan kembali masuk pada tubuh anak. Tentu saja hal itu akan menyebabkan anak menjadi sulit sembuh dari diare. Oleh sebab itu, seorang ibu yang anaknya sedang terkena diare, wajib melakukan cuci tangan setiap setelah bersentuhan dengan feses/tinja anak. Penelitian yang dilakukan oleh U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Pakistan menunjukan bahwa cuci tangan merupakan teknik yang murah dan sangat efektif untuk menghindari diare pada anak-anak.

4. Tanda dan gejala dari penyakit bahaya lain

Terkadang diare bukan hanya disebabkan oleh kuman yang masuk ke dalam saluran pencernaan tapi merupakan gejala dari penyakit berbahaya lainnya. Penyakit-penyakit berbahaya tersebut misalnya  infeksi saluran kemih,  Necrotizing Enterocolitis (NEC), kanker usus, lupus dan yang paling ekstrem adalah HIV AIDS. Jika anak mengalami diare terus menerus atau diare hilang timbul dalam jangka waktu yang pendek, maka ibu patut mencurigai anak terkena salahsatu dari penyakit di atas.

Baca juga  5 Tips Perawatan Payudara Berikut Dijamin Membuat ASI Lancar Setelah Melahirkan

5. Penyebab kematian paling umum pada balita di seluruh dunia

selamat tinggal
via: https://www.flickr.com/photos/wwworks/

Menurut data WHO dan UNICEF, diare merupakan penyakit paling umum yang diderita oleh anak-anak di seluruh dunia. Diare juga berkontribusi atas 1.8 juta kematian balita per tahun di seluruh dunia. Jika data tersebut kembali disederhanakan maka dalam setiap satu jam, diare telah membunuh sekitar 205 balita di seluruh dunia. Angka tersebut merupakan angka yang sangat tinggi, bahkan angka kematian anak-anak akibat diare melampaui angka kematian anak akibat HIV AIDS. Angka kematian yang tinggi akibat diare tersebut tentu merupakan alasan yang sangat cukup bagi orangtua untuk tidak menyepelekan diare.

 

Untuk mencegah bahaya dari diare, baiknya orangtua selalu memperhatikan perubahan sekecil apapun ketika anak sedang terserang diare. Jika Ibu atau Ayah melihat mata anak lebih cekung, kulit anak lebih keriput, kemudian bibir terlihat kering dan anak terlihat lemas, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan yang terdekat agar mendapat penanganan lebih lanjut dan anak dapat kembali bermain dengan ceria.

 

 

Referensi:

Luby, S. P., Agboatwalla, M., Feikin, D. R., Painter, J., & al, e. (2005). Effect of handwashing on child health: A randomised controlled trial. The Lancet, 366(9481), 225-33. Retrieved from http://search.proquest.com/docview/199028912?accountid=17242

Furmaga-Jablonska, W. (2014). Diarrhea is more dangerous than AIDS in the 21st century. Nutrition, 30(1), 120-1. doi:http://dx.doi.org/10.1016/j.nut.2013.05.025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.